Selasa, 12 Juni 2012

Rahasia Kecantikan Cleopatra

Ketika nama Cleopatra disebut, pikiran kita pasti akan langsung membayangkan sosok seorang Ratu Mesir yang cantik dan anggun. Meskipun hidup berabad-abad yang lalu, Cleopatra masih jadi salah satu ikon kecantikan yang abadi. Apa ya, rahasia di balik kecantikan pemimpin terakhir bangsa Mesir ini?

Kecantikan Sang Ratu
Bukti kecantikan sang ratu memang paling banyak didapat dari patung-patung yang dibuat dan kesaksian orang-orang yang hidup pada masa itu. Tapi, salah satu bukti terbesar tentang kecantikannya adalah keberhasilannya menaklukkan dua pria paling susah ditembus pada masa itu, yaitu Julius Caesar dan Mark Anthony.

Cleopatra sendiri selalu digambarkan memesona, dengan hidungnya yang mancung dan sedikit bengkok, serta dagunya yang sangat menonjol. Dia juga selalu tampil dengan rambut dikepang atau ditarik ke belakang dan tentu saja meninggalkan sedikit ruangan di dahi untuk poninya yang legendaris itu.

Nggak cuma secara fisik, kepribadiannya pun menawan. Kepercayaan dirinya yang tinggi, kemampuannya berbicara dalam berbagai berbahasa serta suaranya yang berwibawa, membuatnya mampu mendekatkan diri dengan orang-orang penting pada masanya.


Rahasia Kecantikannya
Karena pada masanya belum ada kosmetik dan alat-alat kecantikan lainnya, nggak heran kalau Cleopatra kemudian disebut sebagai salah satu ahli kecantikan yang pertama. Soalnya, Cleopatra juga memakai berbagai ramuan alami, untuk mempercantik dirinya.

Ada beberapa ramuan yang sering dipakainya, seperti ramuan untuk kulit dan ramuan untuk mencuci muka. Minyak yang diambil dari biji tanaman Hibiscus dipakai di seluruh kulit tubuhnya. Soalnya minyak ini dianggap bisa menjaga kulit dari sengatan matahari di iklim panas dan pasir.

Untuk menjaga kulit wajahnya, Cleopatra mencuci muka beberapa kali sehari. Dia mencuci muka dengan menggunakan krim yang terbuat dari minyak dan jeruk nipis atau kapur. Asam dari apel dan air dipakai untuk membilas wajah. Nggak jarang pula madu dioleskan ke wajah untuk mencegah bakteri berkembang.

Piala Eropa

Piala Eropa 2012 memang bikin banyak orang, termasuk cowok kita atau bahkan kita sendiri, heboh dan merasakan euforianya. Tapi, sebenarnya gimana sih awal mulanya turnamen yang diadakan setiap empat tahun ini terbentuk? Lalu, apa saja fakta menarik di baliknya?





Turnamen yang merupakan kompetisi sepakbola antar negara-negara di Eropa ini sebenarnya berawal dari inisiatif seseorang bernama Henry Delaunay, sekretaris Federasi Sepakbola Perancis. Ide ini muncul karena kekhawatiran Henry sama sepakbola Eropa yang saat itu lebih lemah dibandingkan Amerika Latin. Soalnya Uruguay berhasil meraih medali emas di Olimpiade tahun 1924.

Makanya, menurutnya, negara-negara Eropa butuh kesempatan lebih banyak untuk bertanding antar negara. Salah satunya adalah dengan menciptakan kompetisi sepakbola antar negara di Eropa. Akhirnya, Henry memberanikan diri menyatakan idenya pada tahun 1927 kepada UEFA, komite sepakbola Eropa. Sayangnya, idenya ini nggak ditanggapi oleh UEFA. Henry pun merasa gagal hingga jatuh sakit dan meninggal pada tahun 1955.

Barulah pada 1957, UEFA menyetujui ide Delaunay ini dan Piala Eropa pertama pun diadakan pertama kalinya pada tahun 1960. Perancis dipilih sebagai tuan rumah pertama untuk menghormati Henry Delaunay. Pada turnamen pertama yang disaksikan oleh 26.370 orang itu, Uni Soviet memenangkan kompetisi Piala Eropa. Pada tahun 2012 ini, kompetisi yang juga dikenal sebagai perhelatan sepakbola terbesar kedua di dunia ini digelar di dua negara yaitu Polandia dan Ukraina.

Mayat Jadi Sumber Obat-Obatan

Pada abad ketujuh belas, ilmu kedokteran di Eropa banyak berfokus pada ilmu kedokteran mayat. Para dokter dan ahli kimia mencurahkan energinya untuk menciptakan ramuan obat dengan bahan dasar daging dan tulang manusia.

Dalam ilmu pengobatan saat ini, mayat juga masih digunakan dalam dunia medis, misalnya untuk transplantasi organ.





Seperti dilansir Gizmodo, Minggu (10/6/2012), berikut adalah berbagai jenis obat kuno yang diramu dari mayat manusia. Beberapa bahkan masih dipakai di jaman sekarang... iiih, anehnya.

1. Bubuk Mumi
Sejak abad ke-12 sampai abad ke-17, setiap apotek di Eropa banyak menyediakan bubuk mumi. Mumi adalah makanan kesehatan Abad Pertengahan dan disebut-sebut ampuh menyembuhkan berbagai penyakit dari sakit kepala hingga maag. Plester yang dibuat dari bubuk mumi juga digunakan untuk mengobati tumor.

Permintaan akan bubuk mumi ini jauh lebih banyak dibanding pasokannya karena mumi tidak mudah dicari. Beberapa orang kemudian menggali mayat yang telah kering kemudian menggilingnya dan dijual sebagai 'bubuk mumi'. Toh konsumen juga sulit membedakan.

2. Man Mellified
'Obat' ini dibuat dengan cara seorang pria berusia 70 - 80 tahun hanya dimandikan dan diberi makan madu. Setelah meninggal, biasanya sebulan kemudian, mayatnya disimpan dalam peti mati penuh madu selama 100 tahun. Obat ini digunakan untuk mengobati patah tulang dan cedera. Metode ini ditemukan dalam buku ilmu pengobatan Cina yang ditulis oleh Li Shih-chen pada tahun 1597.

3. The King's Drops
Ramuan ini dibuat dari bubuk tengkorak manusia dan menjadi populer karena sempat dipromosikan kerajan Inggris. Charles II dari Inggris sangat tertarik terhadap ilmu kimia selama masa pengasingannya di Prancis. Ia membeli hak paten obat ini dari Jonathan Goddard, ahli bedah dan profesor di London Gresham College.

King's Drops atau sebelumnya disebut Goddard's Drops ini kemudian menjadi terkenal. Charles II memproduksi dan menjual sendiri obat ini. Obat ini disebut-sebut dapat meningkatkan kesehatan dan kekuatan. Banyak dokter lain mengembangkan obat berbahan dasar tengkorak, salah satunya Sir Kenelm Digby yang mengobati epilepsi dengan tengkorak.

4. Hati dan Darah Gladiator
Di zaman Roma kuno, hati dan darah manusia dianggap obat yang manjur untuk mengobati epilepsi. Paling mujarab lagi jika hati dan darahnya berasal dari gladiator yang sehat, kuat, dan berani. Bahkan, setelah sang galdiator terkena serangan fatal, banyak orang langsung meminum darah dari lengannya yang terpotong. Di sekitar Colosseum waktu itu banyak dijumpai penjual darah segar para gladiator.

5. Sulingan Otak Manusia
Pada abad ke-17, sulingan otak manusia lebih dipercaya mengobati epilepsi daripada hati. Dokter Inggris bernama John French dan ahli kimia Jerman bernama Johann Schroeder menulis ramuan obat ini. French membuat ramuannya dengan menghaluskan otak pemuda kemudian diseduh dengan anggur dan kotoran kuda selama setengah tahun sebelum disuling atau didestilasi.

Schroeder membuat ramuannya dengan melarutkan tiga pon otak manusia dengan air bunga lili, lavender, dan malmsey. Seluruh tubuh mayat kemudian dipotong-potong kecil dan ditumbuk halus untuk dicampur dengan otak manusia dalam penyulingan.

6. Keringat Manusia Mati
Seorang dokter abad ke-17 di Inggris, George Thomson, percaya bahwa tidak ada satupun bagian tubuh manusia yang tidak bermanfaat, termasuk keringat. Keringat seorang pria sekarat atau yang telah meninggal yang diresepkan oleh dokter ini untuk mengobati wasir.

Keringat yang didapat dari tangan pria yang dihukum gantung juga diyakini dapat menyembuhkan kista dan kutil. Bahkan pada abad ke-19, masih banyak praktik orang-orang yang menyentuhkan tangan mayat yang mati digantung ke kista atau kulit yang terkena penyakit.

7. Salep Lemak Manusia
Untuk penderita nyeri sendi, nyeri tulang, kram otot dan kerusakan saraf, sering dianjurkan memakai salep dari lemak manusia yang dicampur bir serta lemak, darah dan sumsum hewan. Di beberapa wilayah di Eropa, para terpidana mati dan musuh perang akan dibawa ke laboratorium pengolahan, di mana mayat-mayatnya direbus dan lemaknya diambil.

Zaman dulu, algojo di Belanda kadang-kadang merangkap juga sebagai ahli bedah dan keesokan harinya ia menjual salep manusia yang dihukum mati tempo hari.

Sebuah artikel di American Journal of Pharmacy tahun 1922 mengatakan salep yang disebut 'Hangman's Salve' atau 'Lemak si Pendosa Malang' itu masih digunakan untuk mengobati tulang yang bergeser atau pincang di Belanda. Namun mengingat Belanda telah melarang hukuman mati sejak 70 tahun lalu, sulit dipastikan bahwa salep ini asli.

8. Kapsul Tai Bao
Obat ini masih digunakan di Cina sampai saat ini. Kapsul Tai Bao diperkirakan berisi bubuk plasenta dan atau jaringan janin yang diaborsi. Obat ini dianggap berkhasiat untuk meningkatkan stamina, mengobati asma, dan mempercantik kulit. Dalam sebuah investigasi yang dilakukan Marry Roach, diketahui dokter di Rumah Sakit Shenzhen di Cina mengakui kapsul ini memang mengandung jaringan janin.

Bulan Mei lalu, petugas bea cukai Korea Selatan menyita pil yang diduga mengandung bubuk jaringan manusia yang berasal dari China, Kementerian Kesehatan China segera melakukan penyelidikan atas tuduhan tersebut. Pejabat Korea Selatan mengaku telah menyita 17.500 pil tersebut sejak tahun lalu.